Showing posts with label Puitis. Show all posts
Showing posts with label Puitis. Show all posts

Jan 17, 2015

Day 6: What If.


Ada banyak sekali pertanyaan dalam benakku. Beberapa ingin segera ku usir pergi agar tak membuatku khawatir berlebihan. Insecure, katanya. Dengan berbagai pertanyaan yang ada, semua berawal dari “What If...”. Ah, sial. Aku benci saat otakku mulai bercabang. Memikirkan hal yang seharusnya tak perlu dipikirkan. Ini menyebalkan.

Bagaimana jika... Bagaimana jika... Bagaimana jika...

Jan 13, 2015

Day 2: Ronan.



I remember you dancing before bed times,
And jumping on me,
Waking me up.”

Sayang, bagaimana harimu? Semoga tak terlalu basah sepertiku yang terus menerus ditemani gerimis. Hari ini langit tak berhenti menangis. Padahal aku sungguh ingin melihat indahnya mentari. Mungkin langit sedang patah hati. Atau mungkin langit sedang tak ingin bertemu matahari. Mungkin mereka sedang berselisih paham. Well, terlalu banyak kemungkinan.

Jan 12, 2015

Day 1: Yellow.


“Look at the stars,
look how they shine for you.
And everything you do.
Yeah, they were all yellow.”

Hari ini aku terus saja mengulang lagu dari Coldplay.  Terdengar sedikit melankolis memang. Begitulah yang ku anggap indah. Pun menenangkan.

Aku tak ingin menuliskan banyak hal dalam posting kali ini. Ini adalah posting pembuka untuk enam hari kedepan. Mungkin berisi tentang apa yang ku lakukan seharian. Atau hanya beberapa kata tanpa makna yang terbaca rancu bagi sebagian orang yang membacanya. Tapi lihatlah lebih jeli lagi. Terkadang yang terlihat di luar belum tentu makna sebenarnya. Sama seperti lagu yang saat ini ku dengarkan. Judulnya Yellow. Kau tahu? Iya, artinya Kuning. Seharusnya menggambarkan tentang kebahagiaan, keindahan, atau mungkin rasa cinta yang berbuna-bunga. Tetapi, sebaliknya. Aku mendapati diriku terhanyut dalam kesedihan birunya lautan. Lautan yang tenang. Tanpa ombak. Mungkin tak cukup tenang untuk melukiskan kesedihannya. Langit tanpa awan yang menandakan kekosongan. Tak ada burung camar yang mengepakkan sayapnya. Semuanya begitu sunyi. Kesepian. Mungkin itu yang ingin disampaikan si vokalis. Tetapi, tetap saja. Itu hanya sudut pandangku. Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda untuk setiap hal yang dirasakannya. Bagaimana pendapatmu?

“And you know,
For you I’d bleed myself dry.
You know,

I love you so.”

Apr 8, 2014

I'm Waiting.

Ini adalah tempat biasa aku menunggumu. Duduk di taman seorang diri tak peduli cuaca yang silih berganti. Aku menunggu. Entah untuk siapa, entah untuk apa.  Ah, aku teringat dia. Dia yang selalu datang untuk menyapaku dan memelukku ketika bertemu. Dia akan bercerita tentang harinya. Dan aku hanya mendengarkan dalam diam. Aku menyukai dan menikmati setiap ceritanya. Mungkin, dialah yang kutunggu.

Aku tak memiliki alasan mengapa harus tetap menunggu. Bagiku, mengapa kita butuh alasan jika kita mau melakukannya? Cinta? Bisa saja. Tetapi aku lebih suka menyebutnya dengan; setia.

Banyak yang menyuruhku untuk melupakannya dan berhenti menunggu. Tidak. Aku tak gentar. Aku tetap saja duduk manis menunggu kembalinya. Kesetiaan diukur berdasarkan seberapa besar kamu ingin berjuang untuk tetap menunggunya. Tak peduli seberapa lama. Tak peduli seberapa lelahnya dirimu. Tak peduli harus dengan bagaimana caramu menghabiskan waktu. Tak usah terlalu banyak berasumsi bahwa menunggu takkan ada hasilnya. Tentu saja ada! Selama ada harapan, hati ini memantapkan niat untuk menunggumu datang.

Maaf jika tulisanku ini sedikit berantakan. Mungkin begitulah keadaanmu saat menunggu dia yang tak kunjung datang. Aku yakin, cepat atau lambat dia pasti muncul untuk kembali memelukku hangat. Aku hanya perlu menunggu.

Untuk kamu yang merasa bahwa keberadaanmu sangat dinantikan oleh seseorang, perjuangkanlah mereka. Karna kamu takkan tahu kapan mereka akan pergi dan takkan kembali lagi. Karna kamu takkan tahu kapan mereka akan berhenti menunggu. Jangan biarkan mereka menunggu hanya karna kamu tahu bahwa mereka akan munggu. Rancu? Bagi yang menunggu, kalimat tersebut cukup padu.

Begitulah kesetiaan seharusnya. Tak perlu diminta untuk menunggu.
Begitulah rindu seharusnya. Tak perlu diminta untuk meragu.

Dec 30, 2013

2013.

Yang datang akan segera pergi.
Dia mungkin tak kan kembali.
Kenanglah aku dalam hati.
Agar kelak kau punya cerita untuk dibagi.
READ MORE <3

Oct 9, 2013

Perpisahan.

Setiap pertemuan yang manis selalu diikuti oleh perpisahan yang pedih. 
Mengapa demikian? Aku selalu bertanya-tanya tentang 'Bagaimana dua hal yang bertentangan selalu berjalan beriringan?'. 
Sampai suatu ketika aku sadar bahwa hidup ini penuh keseimbangan.
Ada pertemuan, ada pula perpisahan.
Selamat Membaca <3

Aug 13, 2013

I Miss You.


Ini semua masih tentang kamu. Masih ada rasa yang seharusnya tiada.
Mungkin juga sedikit tentangku yang mulai.. Merindukanmu :)

Semuanya Berubah.

Ketika kita dekat dengan seseorang, pasti perasaan kita jadi campur aduk gitu kan ya. Ada seneng pas si doi romantis abis, ada cemburu manis pas si doi lebih deket sama yang lain. Ada-ada aja rasanya. Nah, sekarang coba bayangin kalau kalian semua ada di posisiku. Ketika kalian udah deket sama cowok sampai-sampai cowok itu deket ke orang tua kita, ketika kalian udah merasa nyaman sama keberadaan cowok itu, ketika kalian udah terbiasa komunikasi sama tuh cowok. Eh, tiba-tiba cowok itu berubah. Kalau berubahnya jadi romantis binti puitis sih nggak masalah ya. Ini berubahnya jadi nggak komunikasi lagi sama kita. Cowok yang biasanya selalu ada untuk kita, malah pergi gitu aja untuk orang lain. Gimana perasaanmu, girls? Sakit hati? Pasti.

Semuanya berubah. Bukan sejak negara api menyerang. Tapi semenjak kamu ketemu dia. Iya, dia yang kamu temui di acara itu. Dia yang menurutmu lebih cantik dariku. Dia yang menurutmu lebih pantas bagimu, bukan aku. Lalu? Bagaimana perasaan kita selama ini? Bukankah kita sama-sama suka? Bukankah kita sama-sama sayang? Aku, mulai merindukanmu. Kamu, yang dulu.

Kadang-kadang, aku juga nggak habis pikir sama jalan pikiran cowok yang seenaknya gonta-ganti rasa. Dalam artian ya perasaan suka ke cewek. Mereka dengan mudahnya gonta-ganti gebetan. Mainin perasaan cewek kayak mainin Barbie. Sakit, bro. Apa semua cowok itu gampang bosen? Nggak semua cowok kan? Iya kan?

Semuanya berubah. Bukan sejak negara api menyerang. Tapi semenjak kamu ketemu dia. Iya, dia yang kamu temui di acara itu. Dia yang menurutmu lebih cantik dariku. Dia yang menurutmu lebih pantas bagimu, bukan aku. Lalu? Bagaimana perasaan kita selama ini? Bukankah kita sama-sama suka? Bukankah kita sama-sama sayang? Aku, mulai merindukanmu. Kamu, yang dulu.

Ingatkah kamu semua kenangan manis bersamaku? Atau malah sudah menjadi debu? Entahlah. Aku belum bisa memahami apa maksudmu. Aku belum bisa mengerti apa tujuanmu meninggalkanku demi dia. Mungkin kamu bisa seenaknya saja meninggalkan relung hatiku. Tapi aku? Seorang cewek yang baru mengenal cinta dan dicampakkan? Sebut saja aku gagal move on dari kamu. Karna memang kenyataannya begitu. Aku, masih mengharapkanmu.

Kadang-kadang, aku juga nggak habis pikir sama jalan pikiran cewek. Mereka selalu disakiti, tetapi mereka tetap mencintai. Meskipun hati mereka telah dipatahkan seribu kali, mereka tetap ingin menanti. Cewek memang suka menunggu dalam ketidakpastian. Ah.

Dan sampai saat ini, semuanya begitu beda. Kamu udah berubah. Dan aku tidak menyukai perubahan itu. Bolehkah aku memutar waktu? Agar aku bisa membuatmu tetap menjadi yang ku mau :)

Special for Adilla Budhiarsih-

Aug 6, 2013

Maaf.


Ramadhan sungguh cepat berlalu. Tahun ini terasa lebih cepat memang. Mungkin manusia memang dituntut untuk berbuat kebaikan lebih banyak dalam waktu yang singkat.
Semoga semua amalan baik kita diterima Allah yah :)
Jika Ramadhan akan usai, Lebaran akan menyambut kita dengan hangat. Selalu ada momen "saling memaafkan" yang akan menghiasi seluruh BBM, SMS, Social Media, dan aplikasi pengantar pesan yang lain. Tapi, pernahkah terfikirkan olehmu bahwa meminta maaf tidaklah harus menunggu Lebaran? :)
Memaafkan memang bukanlah perkara yang mudah. Mungkin kebanyakan orang menyangkut pautkan "gengsi" sebagai alasan. Maaf dan Ikhlas adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, mungkin. Karna apa? Karna memaafkan itu susah. Susahnya gimana? Karna kebanyakan dari cewek akan mengingat terus menerus kesalahan yang orang lain perbuat untuk menyakiti mereka. Cewek itu peka kan? Iya.
Kita sebagai manusia memang sering melakukan kesalahan. Jadi, sebelum menyalahkan orang lain, cobalah untuk memaafkan diri sendiri terlebih dahulu. Maafkanlah diri sendiri untuk tidak menjadi sempurna. Maafkanlah diri sendiri untuk tidak menjadi yang paling baik dan yang dituntut banyak orang. Pada akhirnya, nanti kita akan tersadar bahwa memaafkan itu indah. Bagaimana bisa indah? Karna hati kita akan merelakan sebagian atau seluruh kesalahan kita dan juga orang lain. Iya kan? :)
Hilangkanlah benci, hilangkanlah dengki.
Semoga kita bisa saling memaafkan diri sendiri dan juga orang lain dengan ikhlas yah, guys! ^^

Jun 27, 2013

Menunggumu, Mengagumimu.

Sejak melihatmu kala itu, aku berasumsi bahwa arti dari kata menunggu bisa diartikan sebagai mencintaimu dari jarak jauh. Memperhatikan setiap detail yang kau punya diam-diam itu mengasikkan. Siapa tahu kau juga punya perasaan yang sama sepertiku. Siapa tahu?

Aku memperhatikanmu diam-diam setiap harinya. Mengikuti kegiatan sekolahmu tanpa ada yang tahu. Menghafal jadwal kegiatan basketmu tanpa ada yang tahu. Aku juga sering mendatangi acara dimana kamu akan berada disana. Kekagumanku padamu, akut.

iasanya orang-orang akan menjulukiku sebagai secret admirer. Well, bisa jadi begitu. Biasanya orang-orang menyebutku bodoh karna tak punya cukup keberanian untuk mengutarakan perasaanku. Bisa juga begitu. Memangnya aku ini siapa? Teman dekatnya? Bukan. Sahabat baiknya? Bukan. Lalu? Aku hanya orang yang menyimpan kagum pada seseorang yang entah tahu keberadaanku atau tidak.

Mungkin jika aku adalah temannya, aku bisa mengatakan “cinta”. Tapi aku terlalu perasa. Nanti malah pertemanan yang ada rusak karna “cinta”, merepotkan. Mungkin jika aku adalah orang yang dikenalnya, aku bisa mengatakan “cinta”. Ah, tapi tunggu dulu. Psst.. Aku tak cukup berani melakukan itu.

Menunggumu dalam diam. Psst.. ini rahasiaku. Tak ada seorang pun yang tahu bahwa aku menaruh rasa kagum yang mendalam terhadapnya. Inikah cinta? Atau hanya ilusi semata? Susah menjelaskannya. Susah juga memahaminya, kan?

Dan sampai detik ini, entah bagaimana perasaanmu terhadapku, entah bagaimana isi hatimu, atau entah bagaimana kisah cintaku. Aku, masih menunggu.. :)

Jun 25, 2013

Menunggumu.

Sejatinya menunggu adalah terombang-ambing dalam ketidakpastian. Entah sejak kapan aku mulai menggantungkan harapanku dengan cara menunggumu.

Menunggumu adalah hal baru dalam hidupku. Aku tidak dapat mengingat kapan terakhir kali aku membicarakan tentang cinta. Tunggu dulu, ini bukanlah cerita tentang cinta. Melainkan tentang ketidakpastian dalam penantian. Aku sungguh tak mengerti apa yang sedang terjadi atau apa yang sedang aku lakukan. Saat ini aku sedang menunggu orang yang sama sekali tidak aku kenal. Entah apa yang menantiku di garis finish. Entah apa yang membuatku menunggu orang asing ini. Aku tak ingin tahu menahu.

Menunggumu tanpa alasan? Ya, aku sedang melakukannya sekarang. Mungkin kalimatku saat ini terlihat rancu tak padu. Biar ku perjelas. Aku tak tahu apa yang aku lakukan saat ini. Ketika ditanya tentang alasan aku mendadak bisu. Sial.

Ini bukan tentang mengagumi sosokmu. Tetapi tentang menunggu dalam harap untuk sesuatu yang tak pasti.
... Aku menunggumu :)

Jun 20, 2013

Selamanya? Aku Meragu.

Selamanya? Aku Meragu

          Aku mengendarai motorku dengan perasaan gundah. Masih terngiang suara paraunya saat mengatakan hal terpahit yang harus aku dengar. “Andre, aku mau kita udahan aja.” Kalimat macam apa itu. Aku masih saja menggerutu. Jalan menuju rumah Dinda memang jauh. Tapi aku merasa kali ini lebih jauh dari biasanya. Semakin ku tambah laju motorku. Aku tak peduli.
          Biasanya, datang ke rumah Dinda adalah salah satu hal yang membahagiakan. Entah ketika aku mengajaknya menonton film terbaru, mengajaknya makan di restoran baru, atau sekedar ingin melihat senyum manisnya. Tapi, kali ini berbeda. Aku bisa merasakan tanganku dingin saat membunyikan bel rumahnya.
          “Mau apa kesini?” Dinda membuka pintu dengan mata sembab. Aku tahu dia habis menangis. Aku tahu.
          “Kamu kenapa Din?” Sial. Bodohnya aku yang selalu menannyakan pertanyaan yang sama padahal aku sudah tahu jawabannya.
          “Aku nggak kenapa-kenapa tuh.” Jawabnya tanpa melihat mataku. Dinda berbohong, lagi.
          “Kita kenapa sih? Kalau ada masalah ya diselesaikan baik-baik. Jangan asal bilang putus gini dong Din. Aku masih sayang kamu.”
          “Kamu udah nggak pernah ada waktu buat aku lagi. Aku capek, Ndre. Kamu juga lebih sering jalan sama temen-temen kamu kan? Aku capek.” Suara Dinda parau. Menahan tangis, pasti.
          “Din, kita pacaran nggak seminggu dua minggu kan?” Aku menahan suaraku sendiri.
          “Dua tahun Din.” Aku melanjutkan. “Seharusnya kita hilangkan ego kita masing-masing. Bukan malah menghilangkan hubungan kita. Iya, kan?”
          Dinda masih saja diam. Entah apa yang dia pikirkan. Aku tak pandai menerka-nerka. Aku jadi teringat kata-katanya di anniversary dua tahun.
          “Semoga di anniversary kita yang ke-dua ini, kita bakal selamanya bersama yah. Aku sayang kamu, Andre.”
          Selamanya. Satu kata tanpa perjanjian tertulis tentang ‘waktu’. Bagaimana bisa ‘selamanya’ berubah menjadi ‘seketika’ saat Dinda memutuskanku via telepon tadi pagi? Bagaimana bisa ‘selamanya’ berubah menjadi ‘sekedarnya’? Bagaimana bisa ‘selamanya’ berubah menjadi ‘sesaat’? Aku meragu.
          Aku kesampingkan pikiran-pikiran itu. Aku melihat Dinda memainkan rambut indahnya yang dibiarkan tergerai begitu saja. Manis.
          “Din, beri aku satu kesempatan lagi. Aku janji, aku bakal meluangkan waktu lebih banyak sama kamu.” Aku berkata lirih tetapi meyakinkan. Aku rasa.
          Dinda tetaplah diam. Apa yang cewek pikirkan saat akan menjawab pertanyaan cowoknya? Aku tak habis pikir mengapa mereka selalu diam membuat kaumku penasaran sambil larut dalam pikiran.
          “Andre..” Suara lembut Dinda membuayarkan lamunanku.
          “Iya Din?”
          “Aku butuh waktu. Sebaiknya kamu pulang saja. Aku ingin sendirian.”
          Oke. Dinda menyuruhku pulang tanpa pelukan hangat seperti biasa. Dengan perasaan yang semakin tak menentu, aku pulang.
****
          Selamanya. Aku masih berusaha mengartikan kata itu. Dulu, Dinda selalu mengatakannya di setiap kami akan berpisah. Aku sayang kamu, selamanya. Masihkah ‘selamanya’ berarti baginya? Jika iya, kenapa dia tak memperjuangkan apa yang telah kami bangun selama ini? Manis pahitnya long distance relationship. Kenapa? Bertubi-tubi pertanyaan dariku dan untukku sendiri. Aku tak menemukan jawabannya.
          Ya. Aku dan Dinda menjalani long distance relationship atau biasa orang menyingkatnya dengan LDR. Aku tahu bahwa LDR tidak semudah berpacaran pada umumnya. Aku harus menyisihkan uang lebih untuk beli pulsa. Aku harus membagi waktuku bersama Dinda dan waktu bersama teman-temanku. Dibilang cowok gaul sih tidak. Tapi dimana-mana, cowok selalu punya banyak teman kan? Aku rasa itu wajar. Dan aku sering meyakinkan diriku sendiri bahwa memiliki banyak teman adalah hal yang positif selama mereka adalah orang yang benar. Apa mungkin Dinda sudah lelah akan hubungan jarak jauh ini? Entahlah. Aku belum menemukan jawabannya.
          Selamanya. Tak cukup bagiku untuk memahami apa arti cinta yang Dinda berikan untukku. Apa jika cewek mengatakan ‘selamanya’ akan selalu berujung dengan ‘sebentar saja’? Entahlah. Aku lelah. Well, apa mungkin ini adalah ‘lelah’ yang dirasakan Dinda terhadapku? Ah. Sudahlah.
****
          Aku mendapati diriku sedang mengetik SMS untuk Dinda. Mengapa begitu sulit mengetikkan kata-kata romantis yang biasanya aku tujukan untuknya? Aku ingin mengetahui kabar darinya. Sebenarnya, aku ingin tahu bagaimana kejelasan hubungan kami.

To: Adinda:*
Sayang,udah makan belum?
     
              Itu adalah SMS tersingkat yang pernah aku kirim untuk Dinda. Canggung memang. Tapi aku hanya bisa mengetikkan itu. Lima menit berlalu tak ada jawaban dari Dinda. Aku tetap menunggunya. Melihat handphoneku lima detik sekali, menggelikan.
          Handphoneku berdering. Ah. Dinda.
          “Halo Dinda.” Jawabku se-sumringah mungkin.
          “Hai Andre.” Nadanya masih sedingin kemarin siang.
          Hening. Apa yang dia pikirkan. Duh.
          “Ndre, soal yang kemarin siang. Emm, kayaknya aku nggak berubah pikiran Ndre. Aku pengen tetep kita udahan aja.”
          Ini kali pertama aku merasakan air di pelupuk mataku. Menangiskah aku? Mungkin.
          “Oh. Baiklah. Aku tak akan memaksa. Aku harap kita tetap berhubungan baik ya, Din.” Kataku penuh harap nan ragu. Bagaimana bisa jika aku terluka lalu semuanya akan baik-baik saja? Menyebalkan. Aku menutup percakapan kami tanpa mendengar kata-kata Dinda. Sudah. Ini cukup menyakitkan.
****
          Sebulan sudah aku ‘sendiri’. Nama ‘Adinda’ masih belum juga tergantikan di hati. Inikah yang namanya ‘Gagal Move On’? Aku menertawai diriku sendiri. Memang tidak mudah untukku merelakan semua yang telah pergi. Tapi bagiku, melihat Dinda menjadi bahagia tanpa aku adalah suatu kesalahan. Ya, pahit memang ketika kamu sadar bahwa orang yang msih kamu sayangi merasa lebih bahagia tanpamu. Dulu, dia selalu bahagia bersamaku. Tapi sekarang? Semuanya telah berubah. Dinda tidak lagi pacarku yang dulu.
          Terlepas dari itu, aku cukup bahagia melihat Dinda bahagia. Aku mencoba merelakan apa yang seharusnya pergi. Aku juga ingin bahagia. Dan aku rasa, bahagiaku bukan bersamanya.
          Aku bukanlah tipe orang yang mudah mengingat sesuatu. Dan aku heran mengapa aku bisa mengingat setiap detail yang Dinda punya. Senyum manisnya saat ku belikan coklat, rambutnya yang dibiarkan tergerai begitu saja, suara lembutnya yang menenangkan. Ah, sudahlah. Aku tak ingin terlalu larut dalam hal seperti ini.

“Untukmu, Adinda.
Entah bagaimana aku mengungkapkan perasaanku. Entah bagaimana kamu menerjemahkan cintaku. Tetapi, ketahuilah sesuatu. Cintaku padamu masih baku.”

          Mungkin benar jika patah hati membuat kita menjadi penulis dadakan. Saat ini aku memiliki buku tempatku menulis sepenggal demi penggal kalimat rancu yang seharusnya dibaca Dinda. Saat ini aku lebih banyak memiliki kata-kata untuk ditulis daripada kata-kata untukku ucapkan. Cinta membuat segalanya berubah.
 Pada akhirnya aku sadar. Bahwa cinta memang tidak untuk selamanya. Aku memandang langit sambil memetik senar gitarku. Aku masih memainkan lagu yang sama. Lagu yang sama saat Dinda masih bersamaku. Semoga suatu saat nanti akan ada cinta yang menyembuhkan lukaku. Semoga.

Inspired by: Yuan Danantio's Story.